OmahBola.net - Hukuman FIFA Untuk Sepakbola Indonesia Alami Kemunduran
Hukuman FIFA Untuk Sepakbola Indonesia Alami Kemunduran

Jakarta – Ini merupakan sebuah pengingat cinta Indonesia pada sepakbola di level tertinggi, selama mereka menjalani hukuman dari organisasi sepakbola dunia FIFA.

Mantan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjadi presiden selama satu dekade hingga Oktober tahun lalu, senang membicarakan sepakbola saat dia menghadiri even di University of Western Australia pekan lalu bersama mantan bintang ISL (Indonesia Super League) Robbie Gaspar.

mobile3
mobile3

Gaspar, yang telah berusia 34 tahun, merupakan pemain kelahiran Perth yang datang ke Indonesia dan telah bermain untuk empat klub berbeda di ISL selama tujuh tahun, menjadi selebritas di negara ini.

Sekarang dirinya telah pensiun, dia mengikuti pendidikan gabungan Indonesia dan akuntansi di Murdoch University dan juga bergabung bersama pesepakbola se-Asia yang memiliki organisasi bernama FIFPro. Jadi dia sangat merasa simpati atas kasus yang dialami oleh Indonesia.

“Itu membuat hati saya sedih bahwa Indonesia mendapatkan hukuman tanpa ada resolusi yang jelas. Melihat liga-liga seperti Thailand dan Malaysia yang berjalan dengan begitu baik itu sangat menyakitkan karena Indonesia memiliki lebih banyak potensi sepakbola dan semangat daripada negara-negara lain di Asia.

“Tapi inilah yang terjadi ketika orang-orang yang terlibat dalam olahraga mencampurkannya dengan urusan-urusan lainnya.”

FIFA menghukum Indonesia per tanggal 5 Juni setelah Menteri Olahraga dan organisasi sepakbola Indonesia (PSSI) gagal untuk menyelesaikan masalah mereka terkait siapa yang bertanggung jawab atas jalannya kompetisi sepakbola di Indonesia.

Itu membuat tim nasional sepakbola Indonesia tidak dapat ikut serta dalam kualifikasi Piala Dunia 2018 dan kualifikasi Piala ASIA 2019.

Pelatih internal timnas dan direktur teknik Pieter Huistra, yang merupakan mantan pemain timnas Belanda yang sukses bersama Glasgow Rangers pada tahun 1990an, mengungkapkan dirinya sudah tidak mendapatkan gaji selama tiga bulan dan sedang mencari pekerjaan lain.

“Itu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan masalah tersebut, lisensi-lisensi pelatih AFC, timnas U-16, U-19, dan program-program lainnya, semuanya harus diperbaiki,” kata Huistra.

“Selama periode untuk membangung kembali sepakbola di negara ini, kami harus kehilangan pekerjaan dan sepakbola Indonesia akan ketinggalan tiga atau empat tahun dari negara-negara lainnya di Asia. Dan hasilnya, kami akan ketinggalan jauh di masa depan.”